Kecerdasan Menghadapi Kesulitan

"Penting! Ajarkan anak kecerdasan menghadapi kesulitan."
Elly Risman, Psikolog Anak.

Jika anak tersebut laki-laki yang ber AD rendah, dalam pergaulan mereka akan mudah menyerah pada pengaruh negatif seperti narkoba dan lebih mungkin memiliki anak diluar nikah. Orang tua yang memberikan semua kebutuhan dan keinginan anaknya bahkan ketika anak belum memintanya akan membuat anak memiliki Adversity Quotion (AD) yang rendah. AD adalah kemampuan untuk tabah dalam masalah, "tahan banting" dalam menghadapi masalah hidup. Jika anak tersebut laki-laki yang ber AD rendah, dalam pergaulan mereka akan mudah menyerah pada pengaruh negatif seperti narkoba dan lebih mungkin memiliki anak diluar nikah. 

Ketika menikah laki-laki ini tidak bisa bertanggung jawab ketika masalah sulit atau serba bergantung pada istri yang dianggap sebagai ibunya yang mengatur/menyediakan semua kebutuhan dari ikat pinggang sampai tukang yang akan membetulkan genteng. Yang Perempuan, sebagai istri akan mencari suami yang mampu memberinya segalanya dan akan mudah meminta cerai disaat sulit. Sebaiknya Orangtua mulai membiasakan diri melatih anak-anaknya untuk BMM (Berpikir, Memilih, Mengambil Keputusan) lebih seringlah menggunakan kalimat tanya seperti "Bagaimana perasaanmu tentang hal ini?", "Apa yang perlu kamu lakukan?", "Apa dampaknya kalo kamu melakukan hal itu?".

Beberapa hal yang perlu Orangtua lakukan :

Pertama :
Bantu anak bisa mengambil keputusan sendiri dengan banyak bertanya ketika anak sedang banyak PR, dalam konflik dengan temannya, dan lain-lain. Sedikit menasehati tetap boleh.

Kedua :
Pahami bahwa ekonomi keluarga tidak selalu naik dan anak-anak akan menjalankan kehidupan rumah tangganya sendiri jadi ajar anak-anak sesuai perannya. Laki-laki menjadi suami dan ayah yang tegas, berani, melindungi dengan kasih sayang dan anak perempuan yang merawat dan melindungi penuh kasih sayang.

Ketiga :
Di era digital ini, Orangtua juga harus mau belajar tentang dunia anak saat ini (game, media sosial, dan lain-lain).

Keempat :
Orangtua perlu memahami inner child diri sendiri dan pasangannya dan mulai menjembatani kebutuhan dari inner child tersebut sehingga Orangtua (walaupun sudah bercerai) tampil kompak dalam mendidik anak.

Kelima :
Bantu anak memilih pasangan hidupnya dengan mengajarkan bagaimana seorang suami memperlakukan istri dan seorang ayah memperlakukan anaknya. Kita tidak sekedar memilih menantu tapi juga memilih besan karena cara calon besan mendidik anaknya mempengaruhi kejiwaan calon menantu tersebut.

Keenam :
Jangan lupa menjalankan peran sebagai suami dan istri karena akhirnya Anda akan tinggal berdua. Jangan sibuk memikirkan dan menjalankan peran Ayah dan Ibu namun lupa merawat kasih Anda sebagai suami dan istri. Hubungan harmonis kita akan jadi nilai sendiri bagi anak ketika berkeluarga nanti.

Ketujuh :
Laki-laki lebih rasional, kurang empati dibanding perempuan dan fokus pada solusi. Perempuan lebih emosional, insting lebih tajam-langsung bertindak cepat, namun sambil berpikir. Sehingga pendekatannya berbeda antara anak laki-laki dengan perempuan.

0 comments:

Post a Comment

 
;