Broken Home

Selama ini, kita memahami bahwa keluarga dikatakan broken home jika bapak ibu bercerai. Broken home dipandang negatif oleh masyarakat. Sebab, broken home adalah indikasi bahwa ada yang tidak beres dalam keluarga itu. Muncul stigma bahwa anak dari keluarga broken home pasti bermasalah dan menyimpan potensi trauma.

Hal ini mendorong sebagian istri mati-matian bertahan meski bahtera rumah tangga sudah hancur dan kandas dihantam prahara. Istri memilih bertahan meski harus membayar mahal dengan kondisi psikisnya. Sakit dan pedihnya luka berusaha tidak dia rasa. Yang penting anak tetap memiliki bapak, ibu, dan terpenuhi kebutuhan ekonominya.

Padahal, broken home bisa terjadi tanpa perceraian. Bisa menimpa keluarga yang masih lengkap dan hidup berdampingan. Sebab, broken home pada hakikatnya terjadi ketika fungsi keluarga tidak lagi berjalan.

Ada sosok bapak, tapi tak ada tanggung jawabnya. Bapak hadir justru menjadi inspirasi buruk bagi anaknya. Ada sosok ibu, tapi hadir sebagai korban aniaya yang tidak berdaya. Anak membenci bapak, tapi tanpa sadar terwarnai karakter dan sikapnya. Semakin anak mengerti keadaan, justru dia menjadi orang yang lebih terluka daripada ibunya. Diam-diam, anak menyemai belukar dan racun dalam jiwanya.

Allah telah berikan panduan hidup berkeluarga, dan membagi peran di dalamnya. Dengan izin-Nya, kita akan baik-baik saja jika menjalankan panduan Allah Ta'ala. Sayang, kita lebih yakin dengan cara kita sendiri dalam membangun rumah tangga daripada panduan dari-Nya.

Allah juga berikan pintu darurat jika kita berada dalam kondisi terpaksa. Tidaklah Allah tunjukkan sesuatu kecuali pasti mengandung hikmah dan kebaikan di dalamnya.

0 comments:

Post a Comment

 
;